Posted in Articles I've Made for College

Mendobrak Stigma“Rape and Rapist Terjadi Akibat Kesalahan Perempuan dalam Berpakaian.”

           Kasus kekerasan seksual terhadap perempuan masih terus terjadi dan bahkan semakin meningkat setiap harinya di berbagai negara di dunia, khususnya Indonesia. Kekerasan seksual itu sendiri dapat berupa pemerkosaan, percobaan pemerkosaan, intimidasi seksual, pemaksaan (yang menyangkut seksualitas) dan masih banyak lagi. Tetapi yang akan saya tekankan disini adalah kekerasan seksual berupa pemerkosaan terhadap perempuan, serta keterlibatan masyarakat dalam menanggapi hal tersebut.

            Menurut Komnas Perempuan, lebih dari 90 persen kasus pemerkosaan di Indonesia tidak dilaporkan ke pihak berwajib. Alasan utama mereka tidak berbicara adalah karena adanya stigma sosial yang membuat mereka, sebagai para korban pemerkosaan pada akhirnya disalahkan dan mendapati akibat-akibatnya. (Sophia, 2016)

            Pada Hari Perempuan Internasional yang jatuh di tanggal 8 Maret 2018 lalu, Komnas Perempuan mencatat ada 340.000 lebih kasus kekerasan seksual terhadap perempuan yang ditangani selama tahun 2017. Sebagai perbandingan, pada 2016, tercatat ada 259.150 kasus kekerasan. (Unknown, 2018) Berdasarkan laporan tersebut dapat dilihat bahwa seiring berjalannya waktu dari tahun ke tahun, semakin banyak korban kekerasan seksual yang mulai berani untuk angkat bicara. Beragam aksi telah mereka lakukan demi menuntut keadilan bagi para korban dan menuntut hak mereka sebagai perempuan yang seharusnya mendapat perlindungan, bukan ejekan, cemoohan ataupun pandangan sebelah mata dari masyarakat.

            Namun, apakah dengan banyaknya perempuan yang angkat suara dan menggelar banyak aksi, lantas stigma sosial dalam menilai kekerasan seksual menjadi berkurang atau berhenti?

Stigma Sosial dalam Kasus Kekerasan Seksual

             Dalam kasus kekerasan seksual seperti pemerkosaan, masih banyak sekali masyarakat atau orang-orang yang justru melakukan victim blaming. Victim blaming dimulai dari menyalahkan pakaian yang korban kenakan ketika terjadi pemerkosaan dan latar waktu. Karena jika terjadi di malam hari, mereka akan berkata “Makanya jadi perempuan itu jangan suka pulang/jalan malam-malam.” dan jika korban tengah memakai pakaian yang sedikit terbuka, rasanya akan semakin absolute kalau pemerkosaan itu terjadi akibat ulah korban sendiri yang memancing si pemerkosa. Menyedihkan, menyakitkan dan tentu sangat lah tidak adil.

Menurut saya, salah satu penyebab ketimpangan stigma sosial adalah karena masih kokohnya budaya patriarki yang berdiri di Indonesia, membuat kebanyakan orang memandang derajat perempuan selalu lebih rendah dibanding laki-laki. Banyak alasan yang membuat budaya patriarki masih bertahan di Indonesia kemudian menciptakan banyak  kesalahan dalam pembentukan stigma, seperti ‘tidak heran’ bila laki-laki akan melakukan hal senonoh jika perempuan yang ‘memancing’.

            Analogi kucing dan ikan yang berbunyi: Kucing kalau dikasih ikan asin, masa menolak? Ya pasti dimakan. secara tidak langsung mengibaratkan laki-laki adalah kucing, perempuan adalah ikan asin dan semakin meningkatkan tindakan victim blaming setiap kali terjadi kasus pemerkosaan. Analogi cacat bagi saya, karena seperti yang salah satu dokter serta psikiater di Indonesia, Jiemi Ardian katakan, “Laki-laki bukan kucing kelaparan dan perempuan bukan ikan untuk dimakan, Pemerkosaan itu tentang pelaku kriminal yang memakan korban”.

            Pada tahun 2013, Arab Saudi sempat menempati urutan ke empat dari lima dalam skala pemerkosaan dari berbagai negara di dunia menurut WomanStats. (TS, 2013) Padahal seperti yang kita ketahui, kebanyakan penduduk di Arab Saudi hampir seluruhnya berpakaian tertutup disertai jilbab dan niqab karena 85 persen populasi negara tersebut beragama Islam. Fakta ini memperkuat bukti bahwa pemerkosaan terjadi bukan karena pakaian yang perempuan kenakan. Kalau pemerkosaan terjadi sebab pakaian perempuan, bagaimana dengan kasus pemerkosaan yang terjadi pada balita belakangan ini? Bagaimana dengan kasus laki-laki yang memuaskan nafsunya dengan memperkosa hewan seperti ayam, kambing bahkan anjing?

            Perempuan berhak mengenakan pakaian yang mereka ingin kenakan, perempuan berhak berjalan di ruang publik tanpa mendapatkan suatu gangguan, perempuan berhak melakukan apapun selama tidak ada pihak yang dirugikan. Laki-laki berhak mendapatkan pelajaran untuk berhenti melihat maupun memperlakukan perempuan sebagai objek seksual. Model pakaian, keadaan, waktu atau apapun tidak pantas dijadikan alasan untuk membenarkan pemerkosaan.

            “The devil is in your head, not in a woman’s body.” (Unknown)

            Dalam menghapuskan stigma sosial pada kasus kekerasan seksual, khususnya pemerkosaan, tentu saja dibutuhkan usaha yang teramat sangat besar. Namun kita pun memiliki bermacam-macam cara untuk menghapuskan stigma tersebut. Dimulai dari memberi pengetahuan kepada orang-orang terdekat seperti keluarga, teman, sahabat, lalu menyebarkannya ke banyak platform media sosial, organisasi atau kegiatan yang kita ikuti. Dengan begitu akan semakin banyak orang yang terbuka pikirannya untuk bersikap bijaksana dan relevant dengan tidak menyalahkan korban apabila terjadi kasus kekerasan seksual.

Referensi

Sophia. (2016, Juli 26). Survei: 93 Persen Kasus Pemerkosaan di Indonesia Tidak Dilaporkan. Retrieved Desember 23, 2018, from https://www.voaindonesia.com: https://www.voaindonesia.com/a/survei-93-persen-pemerkosaan-tidak-dilaporkan/3434933.html

TS. (2013, Januari 16). WomanStats. Retrieved Desember 24, 2018, from WordPress: https://womanstats.wordpress.com/2013/01/16/the-high-rape-scale-in-saudi-arabia/

Unknown. (2018, Maret 08). BBC News Indonesia. Retrieved Desember 23, 2018, from http://www.bbc.com/indonesia: https://www.bbc.com/indonesia/trensosial-43317087

Author:

a scorpion who's majoring psychology, spent my most of time listening to Daniel Caesar and eating chicken nuggets.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s